London – Marrakech Trip, Part 5: Transportation and other Tips

Sarana transportasi yang biasa digunakan penduduk maupun turis disana adalah sewa mobil, taksi, bus, horse-drawn carriage (atau delman sebutan di Indonesia), atau dengan jalan kaki. Jika tidak ingin mengeluarkan biaya transportasi, jalan kaki paling mudah karena memang jarak antar tempat turis tidak terlalu jauh. Jika memiliki uang cukup dan tidak ingin repot, sebaiknya menyewa mobil. Jika ingin yang murah dan mudah kemana aja, sebaiknya menggunakan taksi. Namun, berdasarkan pengalaman, jika ingin menggunakan taksi perlu berhati-hati.

Gambar 22. Bis di Marrakech

Gambar 23. Taksi ‘Mercedes’ di Marrakech yang bisa muat hingga 7 penumpang (3 di depan dan 4 di belakang)

Gambar 24. Horse-drawn carriage, seperti delman di Indonesia

Tarif menggunakan taksi mayoritas tidak menggunakan argo dan meteran. Ada 3 jenis taksi yang disediakan di Marrakech; kecil (Petit Taxi) untuk 1-3 orang, sedang (Grand Taxi) untuk 4-6 orang, dan yang besar (Mini Bus) untuk 6-8 orang. Sebaiknya kita harus nego harga dulu sebelum naik, bahkan biasanya negosiasi di awal tidak mempengaruhi supir taksi untuk ‘memeras’ kita.

Gambar 25. Gambar situasi di dalam Grand Taxi yang mirip dengan angkot di Indonesia, sangat padat dan orang lain dapat naik taksi di tengah perjalanan

Ada pengalaman sudah dua kali dialami, yaitu menggunakan taksi dari Jemaa el Fna ke hotel, jarak sekitar 5-10 menit, dan harga sudah disepakati Dh 40 untuk 4 orang setelah melalui proses tawar menawar yang cukup alot. Kemudian sesampainya di hotel, sang supir bilang uang Dh 40 itu untuk satu mobil kecil jika kita menggunakan dua mobil kecil, seakan-akan dia tidak tahu kalau kita sudah menyetujui harga kesepakatan. Kita harus bersikap tegas dan keras jika sudah menemukan kasus seperti ini, jika perlu cukup meninggalkan uang hasil kesepakatan (harus uang pas kalau tidak mau rugi) kepada supir dan tinggalkan saja supirnya lalu kita masuk ke dalam hotel.

Walaupun kita harus berhati-hati dengan kondisi supir taksi yang agak mengkhawatirkan, secara garis besar penduduk Maroko terkenal humoris dan gemar bersenda gurau dibandingkan dengan penduduk Mesir atau negara-negara Arab lainnya. Menurut supir pemandu wisata, setiap daerah di Maroko memiliki dialek dan jenis humor yang berbeda-beda. Biasanya jika penduduk antar daerah bertemu, mereka bisa gampang mengenali dari daerah mana orang tersebut, dan suka menanyakan cerita-cerita humor yang dimiliki oleh daerah asal orang tersebut. Memang menurut pengalaman selama tinggal di Marrakech, para penjual di Jemaa el Fna, penjual karpet, supir pemandu wisata, dan pegawai hotel sangat enak untuk diajak ngobrol dan bercanda walaupun di sela-sela tawar menawar harga.

NB: Some of my photos can be seen on my Flickr

Advertisements

About azisoelaiman

ITB Architecture's student, ITB Student Orchestra's violinist, melankolerist person, architect proffesional wanna be..

Posted on January 26, 2012, in Afrotrip, Travelling Stories and tagged , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: